Derai-derai Cemara

Derai-derai Cemara

SENJA DI PELABUHAN KECILbuat: Sri AjatiIni kali tidak ada yang mencari cintadi antara gudang, rumah tua, pada ceritatiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlautmenghembus diri dalam mempercaya mau berpautGerimis mempercepat kelam.

Tidak bergerakdan kini tanah dan air tidur hilang ombak.Tiada lagi.

Reviews of the Derai-derai Cemara

Hell, tidak ada hal baru kecuali apa-apa yang diangkat dalam kata pengantar-kata pembuka-kata penutup. Jika pingin bikin suatu kenangan, kenapa gak ada foto-foto Chairil, foto-foto keluarga Chairil, puisi-prosa terjemahan Chairil? Kalau kenangan mustinya Horison mengumpulkan semua bagian dari Chairil yang tersisa...

Bahkan, pembaca disuguhkan pada cerita nostalgia Asrul Sani dan anak dari Chairil Anwar sendiri.

Buku ini selain memuat puisi-puisi juga memuat prosa-prosa karya Chairil Anwar, di samping itu pengantar dari anaknya : Evawani Allisa Chairil Anwar dan kata pembuka dari Asrul Sani sangat mencerahkan untuk mengetahui karakter dan sejarah Chairil Anwar sebagai seorang seniman. Begitupun kata penutup dari Agus R Sarjono menambah pengetahuan tentang puisi dan bagaimana Chairil bisa menjadi legenda dalam perpuisian di Indonesia.Sketsa yang bernada muram oleh Herry Dim, serta lukisan cover yang unik dari Jeihan Sukmantoro, menambah nilai bagi buku ini. Derai-derai Cemara diterbitkan pertamakali kali tahun 1999 untuk mengenang setengah abad wafatnya Chairil Anwar, yang meninggal pada tanggal 28 april 1949 ( 1922 -1949 ). Pada waktu itulah bersama Rivai Apin mereka bertiga melahirkan kumpulan puisi yang melegendaris Tiga MenguakTakdir, sayang ketika buku ini diterbitkan Balai Pustaka 1950, Chairil Anwar telah tiada. Sajak-sajak 1942 - 1949 Beberapa sajaknya yang terkenal : * AKU Menurut Asrul Sani sajak AKU ( dibuat Maret1943 )yang selalu dibawakan berapi-api dengan kepalan tertinju, bukanlah sajak pemberontakan, tapi sebuah pamitan yang getir dari ayahnya yang mencoba membujuk dia untuk kembali ke Medan tinggal bersama ayahnya. * Sajak Doa yang syahdu ini dibuat tanggal 13 November 1943 * Derai-derai Cemara Cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum ada akhirnya kita menyerah - ( 1949 ) 2-sajak-sajak saduran : 2 buah sajak saduran yaitu "Kepada Peminta-minta, dan "Kerawang-Bekasi" yang termasuk sajak yang terkenal dan diperkenalkan disekolah-sekolah 3- Prosa 1943 - 1949 Tadinya saya berharap bisa 'mengerti' prosa-prosa yang ditulis oleh Chairil Anwar ini tapi ternyata bahasa nya terlalu tinggi buat saya, jujur kurang bisa memaknai mungkin karena ketidakmengertian saya. Agus mengibaratkan : Sastra Mimbar seperti shalat akbar, shalat Ied atau shala Istisqo, yang mendapat kepenuhan makna ketika kita sadar bahwa kita tengah bersama banyak orang. nama Ch.A. nampaknya besar oleh karena saja-sajaknya yang berjenis sastra Mimbar seperti : 'Aku,' 'Kerawang Bekasi', Perjanjian dengan Bung Karno', dll. Seperti dalam salah satu bait puisinya d i Karet (daerahku y.a.d) , dia dikebumikan di pemakaman Karet, Jakarta Chairil Anwar telah mampu mengilhami kita untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan estetika dalam bahasa Indonesia yang penuh tenaga (hal.120)

Cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam Aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini Hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949 CINTAKU JAUH DI PULAU Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar, di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

bagi saya, bagian yang paling menarik dari buku ini adalah kata pembuka dari Asrul Sani, Suatu Sore Gerimis di Bogor, 28 April 1949, terutama pada cerita tentang pertengkaran hebat mereka... di luar puisi-puisinya, tulisan-tulisan lain di buku tersebut lebih menarik karena tidak mudah mendapatkannya.

Tapi itu bisa dikesampingkan karena sesungguhnya, dengan membaca ini saya jadi sadar kalau Chairil Anwar memang mencoba menangkap refleksi diri, kecintaan-kecintaannya akan sesuatu, dan kehidupannya yang dijelaskan secara kasat mata dalam puisi-puisinya yang memiliki ambiguitas tinggi.

Chairil Anwar was one of the famed figures of the 1945 Generation, that group of luminaries who brought heat and light to Indonesian literature in the formative years of the new nation. Through his poetry, Chairil Anwar succeeded in infusing Indonesian verse with a new spirit and bringing a new enthusiasm to Indonesias cultural arena. This westward turn was one of the major differences between Chairils 1945 Generation peers and the previous cohort of Indonesian writers, the New Authors Generation of the 1930s, who were more oriented toward traditional verse forms. Chairils poetry was not only topically fresh, it struggled with individual and existential issues, in contrast to the writers of the New Authors Generation who were more concerned with giving voice to nationalist enthusiasm.

  • Indonesian

  • Uncategorized

  • Rating: 4.06
  • Pages: 132
  • Publish Date: 1999 by Horison
  • Isbn10: 9799566002
  • Isbn13: 9789799566003