Langit dan Bumi Sahabat Kami

Langit dan Bumi Sahabat Kami

Dalam Langit dan Bumi Sahabat Kami ini, Dini mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa yang dialaminya pada masa itu : kekurangan makanan, musim yang kering, keadaan yang memprihatikan, dan lain-lain.

Seperti kata Ibu Dini, "Sabar dan dermawanlah seperti bumi.

Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman."

Reviews of the Langit dan Bumi Sahabat Kami

Langit dan Bumi Sahabat Kami berisi kebangkitan naluri artistik dan kesadaran tentang hubungan laki-perempuan dalam diri seorang anak perempuan, kesulitan ekonomi, dan lika-liku gerakan bawah tanah dan pengaruhnya terhadap orang-orang terdekat mereka pada masa pendudukan Sekutu di Semarang. Pada masa pendudukan Sekutu Dini tidak bisa berhubungan dengan orang-orang yang dekat secara emosional dengannya: Mariam, kakaknya, dan Edi, sepupunya. Dia juga sering diajarkan lagu-lagu yang lazim dinyanyikan anak-anak pada masa itu. Yu Saijem berkata soal suami-istri campur saat menjelaskan persoalan Yu Kin. Dini, seorang anak yang rasa ingin tahunya besar, yang menjadi saksi percakapan itu kemudian bertanya lebih lanjut pada Yu Saijem. Pada masa itu Dini sering melihat Yu Saijem jalan dengan lelaki yang berbeda-beda. Pada masa pendudukan Sekutu di Semarang barang-barang kebutuhan serba sulit karena jalan-jalan ke luar kota diblokade. Pada masa ini Dini mendapatkan pelajaran etika tentang kepemilikan, berbagi, dan sikap politis. Pembelaan ibu Dini adalah barang-barang ini bisa diberikan pada kenalan-kenalan yang membutuhkan. Saat itu keluarga mereka bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Tidak apa-apa melakukan tindakan itu kalau demi menolong orang lain, apalagi keluarga mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, sebagaimana pernah dilakukan saat mereka memasang pompa air. Saat situasi memanas, bapak Dini, Kang Marjo (suami Yu Saijem), dan beberapa orang lelaki yang tinggal di rumah mereka ditangkap Sekutu. Pada saat inilah Dini mendapatkan etika untuk bersikap adil.

jadi ingat cerita-cerita simbah putri, kalau zaman itu semua yang masih bisa dikunyah dimakan.

Ibu dan ayah Dini adalah orang tua luarbiasa dalam membesarkan anak-anaknya dalam situasi sulit. Dalam kekurangan, mereka tidak hilang akal untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Ibaratnya zaman dulu juga ada keluarga cemara Kata ibu, sabar dan dermawanlah seperti bumi.

Dini Juga mengenang masa dimana keluarganya berusaha mengelabui serdadu Sekutu yang datang pada saat ayahnya berusaha menyembunyikan barang-barang berharga yang tersisa. Di masa sulit tersebut, orang tua Dini masih bisa membatu saudaranya Kang Marjo dan Yu Saijem juga Yu Kim mengungsi di rumahnya juga Ayahnya Dini masih dapat memberikan kejutan manis kepada anak-anaknya. Dalam buku ini diceritakan kisah pencidukan ayahnya oleh serdadu Sekutu karena bekerjasama dengan para pemberontak. Bagaimana kondisi Ayahnya setelah diciduk oleh Sekutu dan kondisi Heratih serta Suami juga Maryam yang terpisah selama masa pendudukan Sekutu digambarkan di akhir buku ini. Selain itu, Dini juga lebih banyak mengingat petuah-petuah dari Ibu Bapaknya juga berbagai situasi yang membentuk cara pandangnya di kemudian hari. Dini yang saya suka: Ya, Ibu kami mengingatkan bahwa selagi kami makan makanan yang pantas, bersih dan tidak busuk, di daerah-daerah yang lain barangkali masih banyak orang yang hanya memiliki jagung dan menir berulat seperti makanan kami dua hari yang lalu. Bahkan barangkali banyak orang yang sama sekali tidak mempunyai sesuatupun untuk pengisi perut. Banyak orang yang tidak mengerti apa itu kegembiraan dan kebahagiaan. Tidak ada pekerjaan yang hina selama kita mengerjakan setulus hati, dengan kepercayaan, kejujuran, tanpa mengganggu orang lain.

Novel ini membahas tentang kesabaran dan ketabahan seorang Dini dan keluarganya dalam menghadapi lika - liku hidup. Akan tetapi,Dini dan keluarganya tidak begitu saja mudah terperangkap oleh siasat Belanda.Hidup memang harus penuh kesabaran dan ketabahn seperti yang dilakukan Dini dan keluarganya walaupun jumlah keluarganya tidak lengkap. Jadi, dalam hidup kita harus pandai - pandai untuk bersikap sabar seperti Dini dan keluarganya.

Dari sekarang kalian dapat mengerti bagaimana rasanya menjadi orang miskin, dia tidak bisa makan setiap hari dan membeli apa yang diinginkan.

"Sabar dan dermawanlah seperti bumi. Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman." Masa perang.